Biarkan Aku Menunggumu
Jika engkau pergi ke hutan jati di musim gugur, kau akan temukan jutaan daun jatuh keĀ bumi. Ambil saja satu daun, kau akan sulit menemukan satu perbedaan daun itu dengan lainnya. Jika nanti kau pegang tanganku, atau kau tatap mataku, kau akan dapati aku selayak daun yang tadi kau ambil. Aku tak perlu menujukan siapa aku padamu. Kamu, dan tujuh milyar manusia dunia dapat mengetahuinya sekejap mata mengedip.
Tujuh belas tahun aku menunggumu, dan aku masih akan terus menunggumu. Jika aku masih menunggumu sampai saat ini, bukan karena aku merasa aku lebih berhak memilikimu daripada pasangan hidupmu saat ini. Aku menunggu karena kamu layak ditunggu. Juga, aku menunggu untuk membuktikan pada diriku, bahwa aku sanggup menunggu.
Aku memahami sepenuhnya jalan pikirmu untuk memilih dia daripada aku. Aku daun jati serupa jutaan yang lain. Dia daun jati baru, tegar di pucuk pohon, tak kan gugur meski tujuh kemarau berganti. Tapi, aku mencintaimu, dan masih mencintaimu, seperti tunas jati mencintai matahari. Aku telah melerai tumpukan daun busuk agar bisa merasakan hangat sinarmu. Tangkaiku, dengan sepenuh sadarku, hanya menjadikanmu tujuan tumbuhku. Keberadaanmu nan jauh di langit biru cukup buatku untuk bertahan hidup. Karena aku mencintaimu, seperti tunas jati mencintai matahari.
Meski kita berjauh, hadirmu selalu ada bersamaku. Aku tak pernah berhenti menggapaimu. Tak terlewat barang satu haripun, kupantau namamu dalam semua bentang dunia maya. Juga pada majalah-majalah kelas atas, dimana fotomu bersama pasangan hidupmu sering terpampang manis. Kadang berdua saja, seringkali satu keluarga utuh. Engkau duduk dalam ayunan rotan, dan pasanganmu berdiri disamping, seolah ingin memastikan bahwa Engkau riang dalam duduk manismu. Atau, tak jarang engkau berada di antara tokoh-tokoh dan selebriti nasional, hadir dalam perjamuan yang hanya orang-orang tertentu yang diundang.
Meski kita berjauh, jiwaku selalu ada untukmu. Aku menantimu dalam semua perjalananku. Berharap langit mempertemukan kita seperti ia mempertemukan bulan dan matahari kala gerhana. Tak setiap tahun terjadi, tapi ketika bertemu, seisi dunia seolah berhenti. Dunia yang tetiba gelap menjadi panggung untuk kita berdua. Bertemu, perlahan-lahan, menyatu, syahdu, lalu perlahan-lahan berpisah, untuk nanti kembali bertemu dalam rentang waktu yang dikalkulasi.
Aku menanti waktu mempertemukanku denganmu dalam seminar-seminar yang kudatangi. Atau dalam pesawat menuju belahan bumi lain. Aku selalu menantimu, dan akan selalu menantimu. Jikapun sampai detik ini, tujuh belas tahun berlalu, tanpa pernah waktu dan langit berpihak padaku, semangatku untuk menjumpaimu tak mundur barang sejengkal. Meski waktu tak berpihak kepadaku, aku tak kan mengutuk waktu. Aku tahu, nanti, mungkin hanya waktu yang setia menemaniku menunggumu.
Meski kita tak pernah bertemu, kabarmu selalu dalam benakku. Aku tahu kamu baru saja dianugerahi putra keduamu setelah anak pertamamu berusia 9 tahun. Aku jejak menghafal nama panjang mereka yang kau untai dari nama-nama sangsakerta. Tak lupa kau selipkan nama-nama modern terbaru, untuk mengimbangi lingkungan yang kini engkau berada. Hidupmu mungkin teramat bahagia dalam gelimang harta. Melihatmu bahagia, aku kerap menangis dalam syukur karena engkau telah tak memilihku. Menangis bukan karena haru engkau bahagia, aku menangis karena aku tak mampu menjadi sebaik butuhmu. Tapi, melihatmu bahagia, aku mampu melupakan betapa porak porandanya hatiku ketika engkau memilih dia. Buatku, melihatmu bahagia jauh lebih mudah daripada membiarkan diriku berkesedihan.
Tak pernah kuceritakan padamu, hari-hariku merangkak pelan setelah kudengar engkau bersanding di pelaminan emas. Tak ada yang tahu pelarianku ke gunung semata mencari sepi dan gelap. Menakar mampu kakiku, siapa tahu ia khilaf membiarkan salah satunya terperosok dalam jurang. Jauh kedalam, hingga tubuhku rangsek dalam semak. Terjebak lama, hanya bisa diam membayangkanmu hingga puas, hingga nyawa perlahan terbang. Tak ada yang tahu semediku di pinggir pantai, bertopang dada, berharap segerombolan camar mengoyak hatiku hingga remah semuat paruh camar, lalu dibawanya terbang, setiap camar satu remah, hingga hilang semua hatiku dibawa ke awan, yang beriring ke gunung besama mendung. Berharap aku lalu pulang tanpa hati, melanjutkan hidup tanpa luka.
Dua tahun berlalu setelah itu. Entah berapa kali aku terperosok dalam jurang. Puluhan kali, camar mematuk dadaku. Aku pulang dengan hati bulat. Dengan perasaan yang masih utuh. Tapi luka hatiku berangsur membaik. Aku tak lagi merasa duka atas pernikahanmu. Lalu, seperti dianjurkan buku-buku populer, aku beranjak bangkit. Mencoba melupakanmu. Mencuci otakku melalui kaidah-kaidah rekayasa otak. Mengurutkan semua titik lemahmu. Aku mampu. Lalu mencoba mencari penggantimu. Aku mampu. Tapi hanya sesaat. Aku tak menemukan titik lemahmu. Mataku kabur melihat kelebihan para calon penggantimu. Aku lalu sadar, bahwa belahan jiwaku tak mungkin tertukar. Karena tak mungkin tertukar, aku akan terus menunggumu, dalam asa yang mungkin takkan terwujud.
Aku lalu bertekad menunggumu, meski hingga aku renta menua. Jika nanti aku tua dan pesakitan, kusewa perawat harian yang akan menungguku dalam waktu-waktuku menunggumu atau menunggu ajal, mana-pun yang akan datang lebih awal. Aku telah dan akan terus bersahabat dengan waktu. Waktu telah rela kuuntai pelan, hingga ia akhir, tanpa aku harus merasa hampa. Jika waktu berhianat dan nyawaku tak juga terbang, setidaknya waktu pasti menjadikanku pikun dan melupakan semua keduniawian. Aku, meski aku tak berharap aku bisa, suatu saat aku juga akan melupakanmu. Tapi, sebelum aku jadi renta dan pikun, aku akan cetak fotomu dalam setiap ujung pandang harianku. Aku kan cetak gambarmu di seluruh sarung bantal dan seprei tempat tidurku. Seperti manusia lain, aku ingin berpulang dalam dekap belahan jiwaku. Kamu.
Hari ini, aku tak tahu mesti riang atau luka. Namamu masuk dalam salah satu tersanngka pencucian uang. Aku tahu kualitas dirimu. Kamu pasti terjebak dalam roda bisnis mertuamu yang konon uangnya tak habis tujuh turunan. Aku pilu, hatimu mungkin tengah kacau balau saat ini. Tapi, apa yang bisa seorang karyawan biasa, seperti aku, lakukan. Entah, aku riang membayangkan, tetiba engkau menghubungiku, engkau bilang ingin lari dari kenyataan. Dan aku, dengan semangatku yang masih empat lima, akan membawamu pergi dari kegemuruhan hidup di Jakarta. Kita berdua akan menghabiskan waktu jauh dari keramaian, entah jadi nelayan di danau Toba atau jadi petani kol di dekat Ranu Kumbolo. Ah, tapi apalah pencucian uang itu. Sebentar lagi, berita tentang dirimu akan ruap ditelan berita-berita artis ibukota, dan kamu akan kembali pada jalur hidupmu semula. Aku, akan kembali menunggumu sambil melakukan rutinitas harianku, menghitung langkah hingga sepuluh ribu.
Jika pun nanti Engkau ingat diriku, pergilah ke hutan karet. Carilah satu pohon yang batangnya tak pernah disadap. Jika engkau beruntung, akan kau temukan satu pohon tanpa alur sadap, tanpa talang, dan cawan lateks. Jika pun nanti Engkau ingat diriku, ingat aku seperti pohon karet tadi. Hatiku tak pernah tersadap rasa, selain rasa cintaku padamu. Seperti pohon itu, aku akan tegar diantara yang lain, meski tersisih dari kumpulannya, tapi sejatinya aku menyimpan limpahan rasa yang hanya engkau yang bisa menyadapnya. Dan yang bisa kami, aku dan pohon itu, lakukan adalah menunggu hingga takdir berpihak.
Griya Kenanga, 4 July 2016.