Kubunuh Cinta dengan Belati
Hujan di luar masih rapat selayak hutan basah. Teriak petir menyela diantara gemuruh air yang terjun bebas dari kumpulan awan. Terasakan aliran air melalui setiap inci kulitku. Gerak merayapnya lambat, meresapkan rasa dingin.
Rasa dingin memang yang aku butuhkan saat ini untuk meredam panas tubuh yang terus menceracau. Air yang terus mengalir dari atas kepala sampai ke ujung jemari kakiku terasakan setiapnya. Seolah ia membasuh pergi darah yang mungkin masih berlumuran di kedua tanganku.
“Aku telah membunuhnya. Aku benar telah membunuhnya!” Tubuhku berguncang menahan tangis dan sesal atas apa yang baru saja aku lakukan. Aku merasa telah menjadi manusia tak berguna dan bedarah dingin. Gemuruh rasaku tak bisa kuredam. Rasa kecewa atas diriku beranakpinak memenuhi rongga dada.
“Huahhhhh!!” Aku tak bisa menahan kecamuk rasa. Aliran udara panas keluar dari rongga dadaku bersamaan dengan gemuruh suara teriakanku, membuat bercak embun di kaca.
Tubuhku perlahan redam ketika sebagian hatiku justru membenarkan apa yang telah aku lakukan. Membunuhnya mungkin satu-satunya cara untuk aku menemukan kedamaian sejati. Nafasku mulai reda teratur.
Cukup lama aku bersamanya. Selama itu aku tak pernah bisa mengenalnya utuh. Tak jelas apa yang ia bawa untuk hidupku. Aku pernah dibuatnya bahagia, tapi sejenak. Keberadaanya berujung pada rasa perih yang meluluhlantahkan semua rasa. Termasuk rasa bahagia yang ia bawa sebelumnya. Membunuhnya adalah mendapatkan hak hidupku kembali, hak untuk damai bahagia.
Hujan masih riuh rendah di luar sana. Aku masih butuh dan ingin terus menikmati aliran air yang membantuku dingin.
Badanku kembali berdentum beriak ketika aku mulai ragu bagaimana aku bisa hidup tanpanya. Fragmen kecil ketika aku masih bersamanya berputar otomatis. Bersamanya, aku pernah menjelajah Bromo, melewati lautan Pasir Berbisik, menerjang terpaan angin dataran tinggi ketika aku bersamanya menuju Ranu Kumbolo. Aku bersamanya menikmati pertunjukan laser dari puncak The Peak di Hong Kong, dan memeluknya saat makan malam romantis di Fremantle Perth. Fragmen-fragmen itu jelas tersorot ke benak dan pikirku. Fragmen itu masih terasa indah, menuntun airmataku jatuh. Perlahan setetes setetes, lalu rembes mengalir menjadi arus deras.
“Tanpanya, bagaimana aku bisa kembali mengembara, menikmati senja pantai Gili Meno?”
Aku masih muda. Aku tak mau menjalani sisa hidupku sendiri. Sepi terkucil di ujung usia. Perih hatiku bertambah, membandingkan nasibku dengan nasib orang lain. Menyesali takdir yang telah mempertemukan aku dengannya. Mempertanyakan mengapa ia tak sama dengan ia yang hadir di hidup orang lain.
Ia hadir dalam hidupku tak seberapa lama. Dalam kurun waktu itu aku pernah mendekapnya erat. Menikmati kehadirannya yang wangi serupa melati. Tapi itu tak lama. Aku menangis pilu ketika tahu tubuhnya berduri macam bulu babi. Merangsek setiapnya ke setiap sisi hidupku, menancapkan setiap duri beracunnya pelan pelan sampai dalam. Meracuni pikir dan sikapku, siang malam bertahun tahun. Dan ketika rasa perihnya mulai menjalar, aku tak punya pilihan. Perihnya sama antara membiarkan ia menancap atau mencoba melepaspaksa-nya.
Aku diam sementara dalam perih yang meraja. Sampai entah darimana ide untuk membunuhnya datang. Ide yang awalnya kupikir ide gila. Namun perlahan aku mulai bisa menerimanya, bahkan menganggapnya sebagai ide brilian. Entah ide gila yang menjadi ide brilian, atau justru pikiranku yang berubah sebaliknya.
Aku telah membunuhnya, tak penting lagi apakah itu ide gila atau ide brilian. Tak guna tahu apa pikiranku brilian atau justru sudah gila. Aku, faktanya telah membunuhnya.
Tangisku mereda. Sebagian hatiku kembali membela keputusanku membunuhnya. Aku lahir sendiri dalam keadaan infant. Kini aku dewasa dan berdaya, aku pasti mampu hidup sendiri. Membunuhnya berarti mempertemukan aku dengan kedamaian. Memberikan waktu untuk hatiku hambar setelah melalui perih menahun. Untuk kemudian nanti perlahan melanjutkan hidup tanpanya, hidup dalam damai.
Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Menggunakan belati yang kupatri. Menyisakan darah yang melumuri jemari. Meski awalnya ragu, tapi aku terus maju berdiri. Membunuhnya, meski dengan separuh hati.
Ah, tentang ia. Seperti kisah yang diceritakan turun temurun. Ia hadir melalui mata, lalu turun ke hati, berlanjut di bibir dan jemari. Tapi sebelum berlanjut ke hati, otaklah yang paling berperan dalam proses tubuh merasakan kehadirannya. Otak inilah yang menyirami tubuh dengan serangkaian hormon yang membuat ia tumbuh berkembang. Testosterone, estrogen, adrenalin, dopamine, serotonin, dan satu hormon lagi yang diproduki gelenjar pituari di bawah otak, oxytocin.
Hormon terakhir ini yang berperan besar membuatku nyaman bersamanya. Memberikan aroma romantis serupa oasis di gurun pasir. Menyediakannya tahta bertelekan permata di dalam hati dan pikiran. Aku terlambat tahu tentang hormon ini. Tapi, melalui hormon ini lah nanti aku bisa membunuhnya.
Keinginanku membunuhnya semakin besar. Tanpa sepengetahuannya, aku menyusun rencana untuk membunuhnya dalam diam.
Aku tak bisa langsung membunuhnya, karena ia terlalu absurd untuk ditikam dengan belati. Cara paling mudah membunuhnya adalah dengan menghilangkan suplai oxytocin ke tubuhku. Dan ini bisa aku lakukan dengan memasukan cairan peptida asam amino yang bersifat reduktor ke dalam kelenjar Pituari di otakku. Cairan ini akan merusak oxytocin dengan mengurai sembilan asam amino pembentuknya sebelum ia berhasil menjalar ke seluruh tubuh.
Tidak bisa tidak, cairan ini harus dimasukan ke tubuh melalui hidung. Jika aku meminumnya, cairan reduktor ini akan rusak terdedah beragam enzim di dalam proses pencernaan, dan itu berarti kegagalan mengirimkan reduktor ini sampai ke titik terakhirnya, kelenjar pituari di otakku.
Pahit rasaya ketika cairan itu kusemprotkan ke hidung. Perlahan reduktor itu terasakan menjalar melalui pembuluh darah di otakku. Ketika nanti ia sampai di kelenjar Pituari, tak ada satu molekul oxytocin pun yang akan berhasil memberikan efek psikomatis berupa rasa nyaman berada bersamanya. Molekul oxytocin berbentuk rantai amino cysteine-tyrosine-isoleucine-glutamine-asparagine-cysteine-proline-leucine-glycine akan tereduksi menjadi asam amino yang lebih sederhana, tanpa daya apapun.
Tetiba aku serasa hilang. Cairan reduktor itu merangsek keras ke aliran darah di otakku, memaksa darah segar keluar dari hidungku kemudian. Perihnya dahsyat, nyaris tak tertahankan. Tapi demi membunuh rasa cinta, aku harus bertahan.
Di luar masih hujan. Sudah berjam-jam aku masih berada di bawah shower berdinding kaca tebal ini. Di seberang laut sana, mereka bersiap membuat ikrar sehidup semati. Ikrar mereka sebentar lagi akan bergaung melalui tebing-tebing di pantai mimpi yang sengaja mereka pilih untuk menguatkan komitmen mereka. Janji mereka untuk tidak akan berpaling ke hati yang lain akan ditasbihkan dihadapan ilahi, meneguhkan niatku membunuh cinta, melepaskan satu rasa dari sejuta rasa yang bisa aku kecap.
Hidupku masih akan berwarna, meski tanpa cinta.
Darah segar terus mengalir keluar dari hidungku, merayap jatuh melalui setiap bagian tubuh yang pernah disentuhnya. Tak berhenti darah mengalir hingga seluruh jejak cinta hilang terseret arus darah, entah menuju mana. Nanti, jika tetes darah terakhir telah terhenti, cinta tak kan lagi punya daya, hanya ada jasadnya, tapi geming tak bernafas.
Bersama janji suci yang mereka ucapkan, jasad cinta kularung di pantai dekat altar pernikahan mereka, membiarkan angin meniupnya menjauh, menuju samudera, menuju peristirahatan terakhirnya. Entah dimana.
Griya Kenanga, 4 November 2012