Cicilan Gadai
Dari kaca jendela yang sudah retak, Syifa perlahan melihat tamunya dari dalam. Ia takut membuka pintu kontrakannya, tapi ketukan dan suara keras sang tamu pasti akan mengundang perhatian tetangga. Syifa berharap keberadaan tiga orang berwajah timur di depan rumahnya itu hanya untuk mencari alamat.
“Betul ini rumahnya Ali Nurali?” Tamunya tak membuang waktu saat Syifa baru sedikit membuka pintu rumahnya
“Betul”. Syifa memberanikan diri.
“Dimana Ali?”
“Ngojek dari pagi, ada apa ya?”
“Saya Elang, dari Kujang Finance, bilang Ali, kalau dia belum bisa membayar tunggakan tagihan sampai besok, lusa saya kesini lagi”
“Suami saya hutang apa?” Syifa memberanikan diri, ia membuka pintunya lebih lebar.
“Tanya saja suami kamu!”
Mendung di langit Suryakencana belum juga reda, Ali masih setia menunggu penumpang tak jauh dari stasiun kereta. Ia berharap pesananan jarak jauh yang akan ia terima. Ia lanjut berkhayal menerima tips dua puluh ribu dari penumpang. Cukup untuk mengisi perutnya yang belum sarapan sedari tadi. Handphonenya kembali berbunyi. Ia menatap sesaat, masih nomor yang sama. Ia geming sampai dering panggilan masuk itu berhenti sendiri.
Ali menatap handphonenya lama, hatinya berdegup keras, tatapannya lalu kosong. Ia terkesiap, handphonenya kembali berdering.
Hujan baru rintik ketika ia mendapatkan penumpang pertamanya. Hanya jarak empat kilometer, tak cukup untuk beli sarapannya pagi ini. Ia tak mendapatkan tips, alih-alih ratingnya turun karena penumpang barusan memberinya tiga bintang. Tadi, beberapa kali ia hampir menabrak angkot jurusan Bogor Leuwiliang. Bukan salahnya jika ia beberapa kali terlambat menarik rem, angkutan umum di kota Bogor memang terkenal sembarangan berhenti di jalan, belanya.
Tak berapa lama kemudian, Ali sudah kembali memarkir sepeda motornya di dekat stasiun persis di depan Lapas Bogor, ia berharap kembali menerima notifikasi orderan masuk. Handphonenya berbunyi.
“Li, maaf sekali, bulan ini saya belum bisa bayar cicilan motor lagi. Siang ini harus antri spesialis di Karya Bakti”.
Jantungnya berdegup kencang, amarahnya naik ke kepala. “Fin, orderan lagi sepi, jangankan buat bayar cicilan motor kamu, buat sehari-hari aja susah.”
Ali kembali membaca whatsapp-nya. Ia buru-buru mengetik “Cepet sehat, Fin.” Ali memutar motornya kearah Kebun Raya Bogor, ia berhenti di salah satu musholla.
“Akang ngutang apa?” oseng genjer yang baru akan ia makan tak jadi ia masukan ke mulut
“Hutang naon?”
“Sejak kapan Akang pake rahasia ke Syifa”
“Neng, rahasia apa?”
“Tadi ada yang datang nagih hutang” Syifa terdengar kesal
“Siapa?”
“Akang hutang apa?”
Ali diam mematung, bergeming atas tatapan mata menuduh Syifa.
“Li, saya besok harus operasi. Operasi besar katanya, Li. Saya butuh uang pegangan buat istri. Kata dokter, ada beberapa alat yang ngga dibayar BPJS. Saya tahu kamu juga lagi susah, tapi kalo ada info ada teman kita yang bisa minjemin dana, kabarin ya”
Tangan Ali mengetik lambat “Semoga lancar operasinya Fin”, tetapi nafasnya makin cepat, kepala dan hatinya mulai menghangat. Ia hapus pesan yang barusan ia tulis.
Makan malam di mejanya sudah semakin sederhana. Oseng genjer yang istrinya cari di sawah belakang rumah, ikan asin pemberian mertuanya, sambal dadak dan kerupuk putih yang istrinya beli dari warung di sebelah kontrakan. Ali sadar Syifa masih marah. Tapi Ali tak berani bercerita lebih lanjut. Ali tahu ini tidak adil buat Syifa, tapi dia tak tahu bagaimana ia harus mulai ceritanya. Ia tak pandai berbohong, apalagi bermain kata.
Suara handphone Ali berdering, Ali tak bisa mengangkat karena tangannya masih berbalur sambal dadak. Syifa berbaik hati mengambilkan handphone Ali. Wajahnya yang sudah kaku sedari tadi semakin terlihat tegang ketika ia melihat nama di layar handphone suaminya.
Ali tampak canggung, ia segera membereskan makannya lalu mengambil handphone dari tangan istrinya. Ia menerima telepon lalu bergegas ke depan kontrakan. Syifa mendengar suara perempuan yang dikenalnya dari balik pintu, tak jelas tentang apa, tapi ia mendengar suara tangis di akhir pembicaraan mereka.
“Ada apa si Euis telepon Akang” Ali tampak linglung. “Ada apa, Kang?”
“Arifin meninggal, Neng”
“Urusannya apa sama Akang, kan Akang ngga kenal sama Arifin”
“Kenal atuh Neng, kan sama-sama ngojek di stasiun”
“Terus kenapa si Euis telepon Akang duluan, pengen ngasih tahu kalo sekarang dia janda, biar bisa balikan sama Akang?”
“Neng, istighfar”
“Istighfar kumaha Kang, ada angin apa si Euis telepon Akang. Atau, selama ini ternyata Akang masih berhubungan sama si Euis?”
“Neng, istighfar. Akang takziah dulu ah, sebentar, nanti jam 9 sudah balik”
Ali paham Syifa amarah, dia berharap waktu akan membantu istrinya kembali ke sifat aslinya. Ia tahu istrinya bukan pendendam, istrinya bukan orang yang mudah berburuk sangka.
Selepas subuh Ali baru bangun, Semalam ia baru sampai rumah hampir jam 12 malam. Ali keluar kamar dan menemukan istrinya duduk di depan kontrakan. Baru selepas zikir, ia menemui istrinya.
“Sudah rapih, mau kemana, Neng?”
“Saya pamit Kang, saya mau balik ke Parabakti. Syifa udah ngga percaya sama Akang. Fathir saya bawa dulu, nanti kalau Akang sudah ada keputusan, Akang bisa ke rumah dan bilang langsung ke Abah”
“Neng, maksud kamu apa?”
Syifa diam, lalu bergegas ke dalam, membangunkan Fathir dari tidurnya.
“Neng, kamu salah paham”
“Terserah Akang, sekarang Syifa maunya balik dulu ke rumah Abah, Akang kalau mau tahlilan tiap hari juga bebas sekarang mah, terserah weh kalau mau ketemu terus sama Euis”
“Demi Alloh, demi rosululloh Neng, Akang mah ngga ada urusan sama si Euis. Akang ada urusan-nya sama Almarhum”
“Terserah Akang weh, kalo Akang masih ada urusan sama si Euis juga teu nanaon, Syifa mah udah kadung teu percaya ka Akang, Akang sudah banyak rahasia”
“Neng, rahasia apa, ngga ada Akang ngerahasiain sesuatu ke Eneng”
Ali menarik nafas sebentar. Tangis Fathir sudah reda, baju lebaran tahun lalu sudah terjulur manis di tubuhnya. Wajahnya coreng dengan bedak putih susu.
Ali menggendong Fathir, mengambil HPnya lalu membawa Fathir ke dalam kamar.
“Neng, Akang akan cerita tapi Neng jangan tinggalin Akang. Akang justru lagi butuh Eneng”
Syifa menatap mata suaminya, ia lalu duduk di lantai kontrakannya yang hanya dialasi karpet plastik.
“Arifin kan anaknya tiga, satu dari Euis, dua dari almarhum istrinya. Besar Neng pengeluarnnya. Motor lamanya mogok terus di jalan pas dipake ngojek, dia butuh motor baru. Dia minta bantuan untuk pake KTP Akang buat kredit motor”
“Akang kasih?” Arifin diam “Akang kasih biar dapat ucapan terima kasih dari Euis?”
“Astagfirulloh, Neng, ngga kepikiran itu Neng, Abah yang selalu nasehatin kita kalo kita bisa bantu orang yang kesusahan, kita kudu bantu”
“Ngga usah bawa-bawa Abah, Kang”
“Dua bulan terakhir Arifin sakit-sakitan, makanya ngga bisa nyicil. Karena pake nama Akang, debt collectornya nagihnya kesini”
“Akang bukan nolong itu mah, tapi nyengsarain diri sendiri, nyusahin saya oge”
“Akang minta maaf, Neng”
“Motornya besok kembaliin aja langsung ke dealer”
“Ngga bisa, Neng”
“Ngga bisa kumaha?”
“Kata Euis, motornya udah digadein sama Arifin, uangnya buat operasi kemarin”
“Hahh? terus Akang harus bayarin terus sampai lunas. Akang minta si Euis untuk tebus motornya lah”
“Euis bilang, uangnya sudah habis untuk operasi Neng, buat hidup mereka aja Euis ngga tahu dari mana”
“Terus akang percaya gitu aja sama si Euis, Akang mau gitu bayar cicilannya sampai lunas”
“Neng, jangan emosi atuh”
“Akang sekalian we biayain hidupnya si Euis?”
“Nengg”
“Dihalalin sekalian atuh Kang”
Syifa berdiri, ia bergegas mengambil Fathir. Fathir menangis HP ditangannya direnggut. Ali tak kuasa menahan Syifa. Ia hanya bisa membiarkan Syifa menggendong Fathir dan satu tas besar berjalan menuju depan gang.
Berbekal alamat yang ada di kwitansi dari Euis, Ali nekat ke Tangerang dengan sepeda motornya. Setelah menempuh puluhan kilometer dan merelakan satu hari tanpa penghasilan, harapan Ali untuk bertemu orang yang sudah menerima gadai motor Arifin ternyata harus pupus. Pemilik kontrakan memberitahu Arifin kalau orang yang ia cari justru kerap dicari banyak orang. Semua terkait penipuan dan pencurian. Hati Ali lirih, air matanya sekuat tenaga ia tahan.
“Tapi saya ada nomer teleponnya, coba aja dihubungi, siapa tahu masih aktif”
Ali kembali berharap. Ia langsung mengirimkan pesan memperkenalkan diri sebagai kerabat dari Arifin dan bermaksud menebus sepeda motor yang digadaikan Arifin. Harapan Ali untuk menemukan titik terang kembali muncul. Ia rindu Syifa, ia ingin kembali menggendong Fathir. Seminggu tak bersama mereka ternyata begitu berat. Airmatanya akhirnya menetes.
“Iya, motornya masih di saya. Saya sekarang di Bekasi. Kalau mau diambil, tolong lunasi dulu hutang Arifin. Transfer 10 juta ya ke rekening saya”
“Sepuluh juta? Arifin menggadaikan sebanyak itu?”
“Sebelum gadai kemarin, dia sudah banyak pinjam ke saya, jadi harus dilunasi semua”
Baru kali ini airmatanya jatuh sederas itu. Ali menutup mata, berusaha menghentikan airmatanya. Hatinya lara, pupus sudah harapannya bisa segera menjemput Syifa di Parabakti.
Selepas duha, Ali mendengar suara kontrakannya diketuk keras. Ali tahu dari suaranya, hanya debt collector yang mengetuk pintu sekeras itu sepagi ini. Ali geming, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia malu, takut, marah. Ia sadar, jangan kan untuk membayar tiga bulan cicilan motor, sudah seminggu ini iya melewatkan sarapan demi mengumpulkan sedikit uang untuk menjemput Syifa. Ketukan pintunya makin keras, Ali sekonyong berzikir, bibirnya bergetar sambil berjalan ke arah pintu.
Tak berapa lama, ia mendengar debt collector berbicara ke seseorang. Ali mematung tak jauh dari pintu, ia menunggu apakah pintu kontrakannya akan diketuk keras lagi. Ali sebenarnya penasaran, tapi ia tak berani membuka gorden jendela, takut ia menemukan sang debt collector sedang mengintip disaat yang sama.
Gagang pintu rumahnya bergerak. Ia waswas kalau tiga pria timur itu memaksa masuk rumahnya. Alih-alih, pintu rumahnya terbuka perlahan. Ali berdiri kaku, berpikir keras kata apa yang akan ia ucapkan pertama.
“Assalamualaikum.” suara lembut terdengar mendayu
“Syiffaa, alhamdulillah” Ali menangis memeluk istrinya, tak peduli jika tiga pria timur itu masih di depan kontrakannya.
“Apa kabar, Neng? Akang kangen” suara Ali serak. Isaknya makin keras.
“Fathir mana?”
“Fathir masih sama Abah, nanti sore diantar, tadi lagi asyik mancing di balong”
Ali melepas pelukannya, ia keluar kontrakan, mencari-cari.
“Debt collectornya sudah pulang, Kang” Ali kebingungan.
“Abah ada rezeki, tapi tadi cuma cukup untuk cicilan tiga bulan”
“Neng???”
“Maafin Syifa Kang. Seharusnya Syifa tetep disini nemenin Akang yang lagi ada masalah” Syifa menarik tangan Ali, lalu mencium telapak tangan Ali.
“Akang yang harusnya minta maaf, Neng, udah bikin kita semua susah”
“Ngga apa-apa Kang, namanya juga hidup, pasti ada susahnya”
“Hatur nuhun ya Neng, Neng udah mau balik kesini, Akang udah coba ngumpulin uang buat jemput Neng, tapi baru kekumpul sedikit”
“Ngga papa, Kang, nanti Syifa bantu cari tambahan penghasilan ya Kang, buat bantu-bantu bayar cicilan motor”
“Neng” Ali memeluk Syifa erat.
“Syifa minta maaf waktu itu emosi karena cemburu. Syifa s
ebenernya yakin, Akang teh membantu Kang Arifin karena niat baik. Kata Abah, berbuat baik memang selalu ada resikonya. Syifa ngga mau gara-gara kejadian ini, Akang kapok jadi orang baik. Syifa mau Akang tetep jadi orang baik, seberapa pun buruk hidup memperlakukan kita”
Ali memeluk Syifa lebih erat. Ia tersenyum, meski ia tahu perjuangannya masih berat ke depan. Tapi sedari kecil ia sudah dipahami, hidup di dunia memang tempatnya ujian, kalau mau hidup senang tanpa ujian, nanti saja itu di surga.
Slow and Sea, 31 Agustus 2026